Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Pesawat Sukhoi Superjet 100

Written By Sena on Selasa, 15 Mei 2012 | 19.04


Gambar foto pesawat sukhoi jatuh
Pesawat Sukhoi Superjet 100 dengan nomor penerbangan RA36801 diduga jatuh di sekitar Cidahu, Bogor, Jawa Barat.

Ketua Badan SAR Nasional Daryatmo mengatakan, posisi pesawat pada saat hilang kontak berada pada koordinat 06° 43' 08" Lintang Selatan dan 106° 43' 15" Bujur Timur. "Itu diperkirakan dekat Cidahu, Gunung Salak," ujarnya dalam konferensi pers dengan wartawan di Terminal Kedatangan Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Rabu (9/5/2012) malam.

Penerbangan yang dilakukan pesawat milik Rusia tersebut merupakan bagian dari demonstrasi penerbangan yang diselenggarakan oleh PT Trimargarekatama. Perusahaan tersebut merupakan agen yang memperkenalkan pesawat Sukhoi kepada perusahaan penerbangan di Indonesia.

Pesawat tersebut melakukan penerbangan sebanyak dua kali. Penerbangan pertama dari Halim Perdanakusuma menuju Pelabuhan Ratu pukul 12.00 WIB dengan penumpang pebisnis di bidang penerbangan. Setelah terbang sekitar 35 hingga 45 menit, pesawat pun kembali ke Halim Perdanakusuma dalam kondisi selamat.

Penerbangan kedua dilakukan pukul 14.12 WIB dengan mengangkut hampir 50 orang. Delapan orang di antaranya merupakan awak pesawat warga Rusia. Penumpang lainnya dari media massa dan utusan perusahaan di bidang penerbangan.

Kini, petugas gabungan dari Basarnas, TNI AD, TNI AU, kepolisian, serta dibantu oleh warga akhirnya difokuskan ke pencarian melalui jalan darat karena helikopter yang sempat diterjunkan untuk melakukan pencarian lewat udara terhalang cuaca buruk.

Mengais Rezeki di Kelenteng Tay Kak Sie

Written By Sena on Senin, 14 Mei 2012 | 19.13



Slamet tengah membersihkan klenteng
SEORANG lelaki paruh baya bukan tampak sibuk membersihkan altar tempat persembahan di Kelenteng Tay Kak Sie. Slamet Purwadi, begitu nama lengkapnya, merupakan warga pribumi yang mencoba mengais rezeki pada tempat peribadatan yang berada di Gang Lombok tersebut.

Ya, lelaki berusia 52 ini adalah seorang petugas kebersihan di kelenteng itu. Satu di antara sepuluh orang warga setempat yang menggantungkan hidupnya di sana. Slamet yang sudah sepuluh tahun bekerja di kelenteng tersebut, mengaku memang dirinyalah yang meminta pekerjaan.

“Dulu saya sempat bekerja di bengkel namun keluar. Awalnya bekerja serabutan di kelenteng, mulai dari bantu membersihkan sampai jadi tukang angkut. Kemudian saya pun diperbolehkan bekerja di sini sebagai petugas bersih-bersih,” katanya, kemarin.

Kelenteng tua yang didirikan pada 1746 itu dia bersihkan setiap hari bersama rekan-rekannya. Pekerjaannya pun semakin berat, tatkala ada perayaan yang dilakukan di klenteng, seperti halnya imlek.
Kelenteng Tay Kak Sie yang pada mulanya hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih ini ramai dikunjungi warga Tiong Hoa.

Sebagai tukang bersih-bersih, dirinya pun harus selalu mengkondisikan tempat agar selalu bersih. Ini dilakukan agar warga Tiong Hoa dapat nyaman beribadah.

Mengenai gaji yang diperoleh, bapak tiga anak ini menuturkan dibayar tiap bulannya. meskipun nominalnya tidak begitu banyak namun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Di sini saya mengabdi, meskipun saya muslim tetapi klenteng juga merupakan rumah Tuhan,” tuturnya yang sudah berhasil menyekolahkan anaknya sampai tingkat universitas.

Tay Kak Sie merupakan satu dari sekian banyak sumber pamasukan bagi warga yang hidup di sekitar pecinan. Tidak hanya Slamet, warga pribumi yang menggantungkan hidupnya di kawasan pecinan untuk menafkahi keluarganya.

Seperti yang dirasakan Yani misalnya. Warga Kebonharjo ini mengaku senang adanya kawasan pecinan. Karena ia bisa bekerja di salah satu pertokoan yang menjual bahan-bahan konveksi. Sudah puluhan tahun dirinya bekerja dan mengabdi dengan warga Tionghoa.

Hal senada juga diungkapkan oleh pardi tukang parkir asal Kembangsari. “Karena Jalan Beteng banyak pergudangan dan banyak pembeli. Sehingga saya memanfaatkan menjadi tukang parkir di sini,” ungkapnya.

Menjadi tukang parkir di kawasan pecinan sangat membawa berkah. Karena rata-rata pemilik kendaraan roda empat yang baik sering memberikan uang parkir antara Rp 2-5 ribu. (wam/17)

Nelayan Makin Sulit Melaut



GUBERNURAN–Setelah kenaikan harga BBM diberlakukan per 1 April mendatang, Pemerintah pusat rencananya akan menggulirkan kembali program bantuan langsung tunai (BLT), sebagai kompensasinya. Namun, tindakan pemerintah itu masih dinilai keliru oleh kalangan dewan.
    
Pasalnya, pemerintah hanya berusaha memberikan kompensasi berupa uang tunai kepada warga miskin (gakin) tapi lupa memperhatikan kebutuhan nelayan yang sebenarnya. Pernyataan itu disampaikan oleh Anggota Fraksi PKS DPRD Jateng Hadi Santoso, kemarin.

Ia menilai kompensasi berupa BLT itu sendiri masih belum efektif. Karena nantinya, hanya akan habis dalam beberapa waktu saja.

“Nelayan selama ini hanya menggantungkan kebutuhan BBM untuk melaut. Sebagian besar nelayan di Jateng menggunakan sistem bagi hasil melaut untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dengan adanya kebijakan (kenaikan harga BBM bersubsidi) itu, maka bagi hasil yang didapatkan pun akan berkurang drastis,” katanya yang juga Anggota Komisi D DPRD Jateng.

Untuk itu, lanjut dia, apabila program BLT kembali digulirkan maka sebaiknya Pemerintah pusat pun memikirkan kebutuhan nelayan untuk melaut. “Memang, penerima BLT juga ada yang berprofesi sebagai nelayan. Tapi, apakah nilai kompensasi yang diberikan itu cukup untuk melaut? Untuk itu, perlu dipikirkan soal kebutuhan nelayan,” jelasnya.

Ia menyarankan, selain BLT untuk gakin, sebaiknya pemerintah juga dapat memberikan kompensasi kepada nelayan. Hal itu dapat dilakukan dengan pemberian subsidi khusus bagi nelayan dalam pembelian BBM.

“Menurut saya langkah seperti itu lebih tepat untuk dilakukan. Karena, subsidi tersebut jauh lebih berguna dibandingkan hanya dengan pemberian uang tunai dalam program BLT,” terangnya. (ano/17)

Gubernuran Digeruduk 5 Kelompok Demonstran



Ribuan massa berbagai elemen organisasi berunjuk rasa di Jalan Pahlawan menolak kenaikan BBM, kemarin. Aksi dapat pengamanan ekstra ketat dari Kepolisian Polda Jateng, Tampak mereka yang berdemo, yakni dari unsure HMI dan SPN
AKSI unjuk rasa terus terjadi di mana-mana. Kompleks gubernuran jadi tujuan para demonstrans. Bahkan dalam sehari kemarin, ada lima kelompok demonstran yang menggeruduk kantor yang terletak di Jalan Pahlawan tersebut.

Aksi pertama dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Semarang sekitar pukul 10.22. Meski tuntutannya hampir sama yakni menolak kebijakan pemerintah tersebut, namun mereka lebih menyoroti pernyataan Gubernur Jateng Bibit Waluyo soal kenaikan harga BBM bersubsidi sama dengan dua batang rokok.
    
Dalam aksinya, mereka melempari halaman kantor gubernur dengan plastik berisi air secara beramai-ramai. Tindakan itu dilakukan sebagai simbol kekecewaan atas pernyataan gubernur tersebut.
    
Setelah itu, mereka bubar dan langsung diganti dengan rombongan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Undip Semarang. Namun, aksi HMI itu tidak berlangsung lama karena mereka meneruskan aksinya ke Depo Pertamina di Jalan Pengapon.
    
Kemudian sekitar pukul 12.00, aksi serupa dilakukan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Mereka berorasi menghujat pemerintahan SBY-Boediono yang akan menaikkan harga BBM. Bukan hanya itu, massa juga melakukan aksi duduk, bakar ban, dan memblokade Jalan Pahlawan sehingga lalu lintas di sekitar lokasi unjuk rasa itu, tepatnya di ruas depan gedung Dinas Sosial, terpaksa ditutup. Selang beberapa menit, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Semarang juga melakukan hal yang sama yakni membakar ban di tengah jalan.

Lebih Besar
Berbeda dengan aksi yang dilakukan oleh kalangan buruh sekitar pukul 15.00. Aksi yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) Jateng itu tidak membawa puluhan orang seperti kaum mahasiswa tapi menggandeng ribuan orang buruh pabrik dari seluruh wilayah. Menurut Sekretaris SPN Jateng Nanang Setyono ada perwakilan buruh dari 14 kabupaten/kota.
    
“Beberapa di antaranya dari Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Salatiga, Demak, dan Kendal,” katanya.
    
Ia menegaskan aksi penolakan akan tetap disuarakan oleh kalangan buruh karena kebijakan pemerintah tersebut sangat membebani masyarakat. “Bagaimana tidak, lihat saja harga kebutuhan pokok saat ini yang sudah naik tiga hingga lima persen. Kemudian, tarif transportasi dimana sebagian daerah sudah ada yang menaikkan hingga 11 persen,” keluhnya.

Meski tidak ditemui pihak legislatif maupun eksekutif, para buruh itu tetap semangat menyuarakan penolakannya. Sepanjang aksi unjuk rasa berlangsung, ribuan aparat kepolisian terus berjaga-jaga di sekitar kantor gubernur dan Gedung Berlian.(ano/12)

Honda Jazz Nopol Palsu, Diringkus



Nopol palsu Honda Jazz pembuka tabir pemalsuan laporan hilangnya STNK
Zaki Mubarok (29) dan Gunawan (37), keduanya warga Gubuk, Grobogan, Minggu (29/1) ditangkap polisi di sebuah tempat hiburan karaoke, Bandungan. Penangkapan tersebut berkat kejelian petugas saat melihat nomor cantik mobil Honda Jazz yang digunakan keduanya, yakni H 8989 JW yang tidak tercatat di Samsat.

Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Agus Puryadi menjelaskan, tertangkapnya kasus penipuan tersebut berawal dari ketidaksengajaan petugas yang melihat nomor mobil cantik yang melintas di wilayah Bandungan. Petugas yang tertarik dengan nopol tersebut selanjutnya mengecek kepemilikannya melalui SMS ke Samsat. "Ternyata nomor mobil tersebut tidak terdaftar di Samsat," kata Agus, kemarin.

Karena curiga, lanjut dia, petugas langsung bergerak membuntuti laju mobil warna hitam tersebut, hingga belok di salah satu tempat tempat hiburan karaoke. Tanpa membuang waktu, begitu mobil diparkir polisi langsung menghampirinya dan meminta kepada pengemudi mobil, Zaki Mubarok, untuk menunjukan surat-suratnya.

"Ternyata surat-surat mobil tersebut tidak ada. Pengemudi hanya menunjukkan surat laporan kehilangan STNK dari Polsek Tanggungharjo, Grobogan," terang Agus.

Selanjutnya dalam pemeriksaan diketahui, bahwa surat laporan kehilangan tersebut menyebutkan nomor polisi asli mobil tersebut berpelat B yang telah diganti dengan H. Untuk mempertanggungjawabkan kebenaran surat laporan tersebut, petugas langsung menggelandang dua penumpang mobil tersebut ke Mapolres Semarang.

Diungkapkan, hasil pemeriksaan sementara di Polres Semarang diketahui bahwa sebelum dilakukan penangkapan di Bandungan, ternyata mobil ini sesungguhnya milik rekan bisnis tersangka Zaki asal Jakarta, dan kemudian disita oleh tersangka dari tangan pemiliknya berkaitan masalah utang-piutang yang belum terselesaikan.

Oleh tersangka, lanjut AKP Agus Puryadi, STNK asli mobil yang saat ini masih di tangan pemiliknya di Jakarta, kemudian dilaporkan di Polsek Tanggungrejo, Grobogan bahwa STNK-nya hilang.

"Tersangka lapor kehilangan STNK dengan memperlihatkan bukti buku garansi dari dealer. Dan surat laporan kehilangan tersebut oleh tersangka bisa digunakan untuk menghindari pemeriksaan polisi. Disayangkan, setelah laporan tersangka kemudian mengganti pelat nopol mobil dari B dengan plat nopol palsu H," papar Agus, kemarin.

Dalam pemeriksaan, menurut dia, tersangka Zaki mengakui bahwa mobil yang ia gunakan tersebut milik rekan bisnisnya di Jakarta. Dan hingga saat ini STNK aslinya masih dipegang oleh pemilik. Untuk itu Polres Semarang bermaksud memanggil pemilik mobil untuk dimintai keterangan. "Pemiliknya akan kami panggil untuk dimintai keterangan," tambahnya.

Saat dipertemukan dengan wartawan, kemarin siang, tersangka menolak untuk diambil fotonya. Keduanya memperlihatkan sikap arogan dengan menuding beberapa wartawan untuk tidak mengekspos kasusnya. "Kalau mau ambil foto seharusnya izin kepada saya lebih dulu. Jangan asal main ekspos, saya ini temannya Bibit," ujar tersangka, sambil mengaku berteman akrab dengan wartawan.

Bahkan kerabat tersangka yang ikut mendampingi di Mapolres Semarang ikut mempengaruhi wartawan untuk tidak mengekspos kasus tersebut. (ino/rif)

Kawasan Kota Lama Kumuh



Pengembangan kawasan Kota Lama untuk menjadi salah satu kawasan wisata yang dibanggakan, agaknya masih dalam mimpi. Sebab saat ini kondisinya justru kumuh oleh bangkai truk dan mobil bekas kecelakaan di kawasan tersebut.

Puluhan kendaraan rusak, baik truk maupun bus tersebut, terparkir di sepanjang Jalan Letjen R Suprapto. Taman Srigunting dan Gereja Blenduk juga tidak luput dari parkir bangkai kendaraan yang rusak.

Kondisi ini dikeluhkan masyarakat, terlebih lagi para wisatawan yang datang ke Kota Lama. Feronika (26), misalnya. Wisatawan asal Jogja ini mengaku kecewa karena kondisi Kota Lama yang ternyata kumuh.

"Padahal bangunan-bangunannya bagus sekali, tapi seperti tidak terawatt. Selain itu banyak kendaraan rusak yang parkir dan sangat mengganggu pemandangan," katanya, kemarin.

Sebelumnya, ia membayangkan Kota Lama merupakan kawasan kota dengan arsitektur kuno. Namun ternyata kondisi yang terlihat tidak seperti yang dibayangkannya.

Rudi, warga Bangetayu, meminta Pemkot memerhatikan kawasan tersebut. Sebab menurutnya tidak pantas kawasan yang menjadi salah satu unggulan pariwisata Kota Semarang terlihat kumuh. Seharusnya kendaraan itu direlokasi di suatu tempat yang jauh dari Kota Lama agar tidak menggangu para wisatawan.

‘’Dijadikan satu tempat. Misalnya di lapangan yang jauh dari Kota Lama. Kalau setiap ada kecelakaan diparkir di tempat itu, lama-lama orang yang melihat atau sedang berwisata jadi kurang nyaman,’’ tandasnya.

Adanya kondisi itu membuktikan perhatian pemerintah pada pengelolaan Kota Lama masih rendah. Belum lagi, kawasan itu sering terkena rob. Sekarang jadi tempat parkir kendaraan rusak.

Ketua Badan Pengelolaan Kawasan Kota Lama (BPK2L) Surachman menyatakan, pihaknya sudah pernah menyurati Pemkot dan Polrestabes Semarang, namun hingga kini belum ada penyelesaian. Pihaknya sangat keberatan kawasan Kota Lama dijadikan tempat penampungan kendaraan rusak. Sebab keberadaan kendaraan itu tentu membuat tidak nyaman dan terkesan Pemerintah tidak peduli.

Walikota Tawarkan Lahan
Sementara itu Walikota Soemarmo HS juga mengaku kerap mendapatkan keluhan dari masyarakat soal banyaknya kendaraan rusak yang terparkir di Kota Lama. Meski kunjungan wisatawan ke tempat itu tidak setiap saat, setidaknya dengan kondisi itu bisa menyebabkan orang malas mengunjungi kawasan tersebut.

‘’Jujur saya melihat pemandangan itu jadi tidak berkesan. Masalah itu akan saya koordinasikan lagi dengan Kapolrestabes dan Kasatlantas supaya ada penyelesaian,’’ tandasnya.

Pemkot menawarkan solusi untuk meminjamkan lahannya supaya bisa digunakan sebagai tempat penampungan kendaraan rusak akibat kecelakan. Terdapat dua lokasi yakni di Jalan Gatot Subroto dan di Kelurahan Gebangsari, Genuk.

‘’Dua tanah itu sudah pernah kami usulkan kepada Polrestabes, namun belum ada jawaban. Kalau di Gatot Subroto mungkin kejauhan, sebab itu butuh koordinasi segera agar ada solusi," katanya. (prihati puji utami/rif)

Valentine's Day, Say it with Chocolate



Perayaan Valentine bagi anak-anak muda masih identik dengan coklat dan bunga. Untuk turut serta merayakan hari kasih sayang yang selalu jatuh pada 14 Februari ini, dibangunlah replika hati terbuat dari styrofoam (gabus) setinggi 2,5 meter menggunakan 10 kg coklat meses yang dipamerkan di Hotel Grand Candi Semarang.

Promotion Manager Grand Candi The Gallery Hotel Semarang Harum Hendrawinata mengungkapkan, aroma coklat sebagai pemikat indra penciuman tamu. Ide awal menggunakan kombinasi cookies dan meses, namun kemudian konsep berubah menggunakan full meses karena aroma wangi meses dinilai lebih menggoda tamu untuk mendekat.

“Selain itu juga karena coklat meses merupakan simbol sebuah kesatuan dan kebersamaan,” ujarnya, kemarin. 

Proses pembuatan replika ini ungkapnya membutuhkan waktu tiga hari. Dimulai dengan pembentukan dua buah hati berbahan baku styrofoam, kemudian dilapisi lem hasil olahan tim pastry hotel. “Penempatan replika di depan Kafe Flamboyan berdekatan dengan lobi membangun suasana terasa lebih manis menjelang Hari Valentine,” tambahnya. Replika tersebut dipajang sejak Senin (6/2) hingga 15 Februari.

Selain hotel yang menyemarakkan valentine dengan coklat, gerai coklat pun mulai banyak diburu konsumen. Pemilik gerai cokelat Conetta di Jalan Pekunden Dalam 47 Leni Arjani mengungkapkan, konsumen loyal mulai dari remaja, karyawan hingga perusahaan sudah memesan sejak bulan lalu.

“Parsel yang terdiri dari coklat, boneka, dan bunga digemari karena dinilai lebih praktis untuk diberikan kepada pasangan, ataupun orang-orang tersayang,” ujarnya. 

Variasi bentuk coklat terus dilakukan agar konsumen tidak bosan. Tahun ini, beberapa model digemari seperti tulisan “I love you”, bunga mawar dari coklat pink serta coklat boks. Khusus untuk membuat coklat tulisan “I love you” didatangkan khusus dari Amerika.

“Model coklat hamburger menjadi bentuk yang selalu digemari setiap tahun. Bentuk hamburger lebih universal diberikan ke sahabat, keluarga maupun orang tua. Jadi, coklat tidak terbatas diberikan kepada pasangan saja,” ungkapnya.

Harga yang dibanderol pun cukup terjangkau yakni mulai Rp 1.000 hingga Rp 225 ribu. Rentang harga bertujuan untuk membidik segmen dari semua kalangan. “Variasi coklat banyak sehingga memudahkan konsumen untuk memilih sesuai selera dan harga,” katanya. (prihati puji utami/rif)

Dicekik Hampir Tewas, Motor Dirampas



Yuni tergolek lemas, ditunggui ibunya






Yuni Indrawati (18), warga RT 05/RW 01, Gamasan, Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (12/2) menjadi korban perampasan motor yang oleh tetangga sekaligus teman SD, Didik (19).

Korban yang juga karyawati PT Nusantara Sakti Bawen ini diduga telah tewas oleh pelaku, dan ditinggalkan di rumah kosong dekat lapangan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bandungan. Saat ditemukan keadaan korban tidak sadarkan diri dan terdapat bekas luka cekikan di leher.

Saat ini Yuli masih trauma dan dirawat secara intensif di RS Bina Kasih Ambarawa. Sedangkan pelaku yang sudah diketahui identitasnya masih dalam pengejaran polisi.

Ayah korban, Sukasdi (47) saat ditemui wartawan menuturkan, kasus perampasan yang hampir merenggut nyawa putrinya tersebut berawal sekitar pukul 05.30, ketika ia mengajak Yuli belanja ke pasar Bandungan. Sepulang dari pasar sekitar pukul 06.30, pelaku sudah menunggu di rumah korban, bermaksud menyampaikan surat dari salah satu teman korban yang bernama Intan. Belakangan diketahui, surat itu palsu.

"Di dalam surat itu Didik mengatasnamakan Intan untuk bertemu Yuli di lapangan MI. Lalu keduanya pergi berboncengan. Mereka sempat berpamitan, dan saya tidak menaruh rasa curiga karena antara Yuli dan Didik itu sudah berteman sejak SD," tutur Sukasdi, kemarin.

Setengah jam setelah pergi, Yuli memberitahukan kepada ibunya, Turiyah (41) melalui SMS, yang isinya mengabarkan Intan telah menghilang dan korban bersama pelaku akan melakukan pencarian. "Ibunya sempat melarang agar Yuli tidak usah ikut mencari, dan menyuruh segera pulang," terang Sukasdi.

Sekitar pukul 07.00, Yuli sudah tidak bisa dihubungi lagi. Seluruh keluarga mencoba menghubungi Yuli, ternyat ponselnya sudah tidak aktif lagi. Sejak itulah keluarga melakukan pencarian. "Keluarga berpencar mencari Yuli. Saya sendiri mencari hingga ke Limbangan, karena curiga kalau Yuli dibawa Didik ke Boja (Kendal), rumah ibunya," kata Sukasdi.

Sukasdi tidak ingat pukul berapa waktu itu. “Saat mencari ke Limbangan itu saya dikabari bahwa Yuli sudah ditemukan. Dan saya diminta segera kembali ke rumah. Dan saya benar-benar kaget setelah mengetahui kondisi putri saya tidak sadarkan diri dan harus dilarikan ke rumah sakit," tambah dia.

Diduga kuat, pelaku perampasan dan percobaan pembunuhan tersebut dilakukan oleh Didik. Karena saat Yuli ditemukan di rumah kosong, kondisinya tidak sadarkan diri. Sedangkan Sepeda motor Honda Spacy nopol H 5845 ZV dan ponsel milik Yuli raib bersama Didik.

Tragisnya, begitu mengetahui putrinya nyaris menjadi korban pembunuhan, Ibu korban, Turkiyah langsung pingsan dan harus menjalani perawatan di RS Bina Kasih bersama Yuli.

Korban hingga kemarin masih sulit diajak berkomunikasi. Tampaknya ia masih trauma berat. Saat ditemui di ruang perawatan, ia berusaha menyembunyikan wajah dan ketakutan. "Saya dicekik dan mau dibuang ke dalam sumur. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi," tuturnya singkat, mengingat kejadian yang baru dialaminya.

Kakak korban Supriyono (30) menjelaskan, saat ditemukan sekitar pukul 14.00, wajah Yuli penuh luka memar. Leher dan kakinya lecet. Selanjutnya warga langsung membawa ke poliklinik Bandungan, yang kemudian dirujuk ke RS Bina Kasih.

Anggota Polsek Bandungan di backup dari Polres Semarang saat ini masih memburu pelaku. Data di kepolisian menyebutkan, Didik adalah residivis kambuhan yang baru keluar dari penjara sebulan lalu. Saat ini polisi masih mengumpulkan bukti-bukti termasuk hasil visum dan celana dalam korban, untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya tindak pemerkosaan dalam aksi perampasan tersebut.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan. Identitas pelaku sudah kami kantongi dan tempat-tempat yang dicurigai sebagai persinggahan pelaku sudah kami ketahui. Kami upayakan segera meringkus pelakunya, sebelum dia kabur lebih jauh," kata Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Agus Puryadi, saat dikonfirmasi. (ino/hes/rif) 

Bensin Menyala, Delapan Terbakar



Seorang korban dengan perban penuh di kakinya (harsem/heru santoso)
Sebantyak 11 orang warga Grogol, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga mengalami luka bakar cukup serius pada tubuhnya. Maklum saja, mereka tersulut api dari bensin yang sedang dipindahkan dari jerigen ke tiap-tiap botol. Kejadian ini terjadi di rumah Surdi (53), warga RT 06/RW 04 Grogol, Dukuh, Sidomukti, Selasa 914/2) kemarin sore.

Data yang dihimpun Harsem dari Ruang ICU RSU Salatiga menyebutkan, kejadian ini berawal saat istri Surdi akan memindahkan bensin dari masing-masing jerigen ke dalam botol ukuran satu literan. Ketika menakar pada botol ke empat, muncul angin dan uap bensin menyembur hingga mengeluarkan api. Untuk mencegah api menjalar, beberapa warga sekitar langsung membantu memadamkan api dengan menyiram air maupun menutup menggunakan karung.

Diduga, saat menakar bensin itu ada tungku yang menyala dan pengaruh angin, maka semburan uap bensin langsung mengeluarkan api hingga membakar para warga yang membantu memadamkan api tersebut.

Dari 11 orang korban, delapan diantaranya mengalami luka parah pada tangan dan kedua kakinya. Kedelapan korban adalah Sukardi (50), Surdi (54), Senin (49), Wahyu Hidayat (34), Jumadi (52), Purwadi (26), Mujiono (47), dan Sumarjo (59), kesemuanya tercatat sebagai warga RT 06, RT 07 dan RT 08/RW 04 Grogol.

“Saat itu, istri Pak Surdi sedang menaker bensin dari jerigen untuk dipindahkan ke dalam botol, tetapi didekatnya ada tungku menyala. Tahu-tahu, terlihat api membara dan warga berusaha memadamkan api dengan disiram dan menutupnya menggunakan karung. Saat api padam dan karung diambil, ternyata api muncul lagi dan langsung membakar para warga yang masih didekat bensin tersebut,” jelas Giyono (44), warga setempat, di ruang ICU RSU Salatiga, kemarin.

Sementara itu Wakil Direktur Pelayanan RSU Salatiga dr Agus Sunaryo SpPD kepada Harsem mengatakan, para korban kebakaran bensin ini akan dijadikan dalam satu ruangan di Ruang Cempaka RSU Salatiga. Hal ini dengan tujuan agar terisolasi bahkan  tidak mudah terjangkit infeksi karena luka baker itu akan mudah kena infeksi jika tidak segera ditangani.

“Kami tempatkan satu ruangan agar luka-luka para korban tidak terkontaminasi dengan penyakit lain. Para korban rata-rata luka yang diderita mencapai 50%-60%. Selain itu, agar perawatan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Kalau masing-masing korban beda ruangan maka penanganan akan menemui kesulitan,” tandas dr Agus disela-sela pemantauan para korban, di Ruang ICU RSU Salatiga, kemarin.

Agus menambahkan, untuk penanganan luka-lukanya, ditangani langsung dr Andik, dokter spesialis bedah RSU Salatiga. Bahkan, sejumlah tenaga perawat langsung dikerahkan untuk membantu penanganan para korban. (hes/rif)

Hape Bernyanyi, Pengamen Digebuki





DEMAK-Suara merdu dari nada dering hape di tasnya membuat seorang pengamen bus antarkota digebuki. Maklum, yang berbunyi merupakan hape colongan.

RISDHA Karya Nugroho tak lagi bisa mengelak. Ketika salah satu hape di kantong celananya ‘bernyanyi’, terbongkar pula ulahnya ngembat lima biji hape dari toko seluler Amelia di Desa Trengguli Kecamatan Wonosalam. Warga Jalan Candi Lama 17 RT 01 RW 10 Kelurahan Candi Kecamatan Candisari, Kota Semarang langsung menjadi bulan-bulanan warga. Beruntung, sebelum bonyok, dia diselamatkan aparat Polres Demak.

Insiden terjadi kemarin siang. Diceritarakan tersangka, siang itu (kemarin) dia baru saja selesai ‘manggung’ di sebuah bus antarkota. Lantaran uang saweran yang didapatnya cukup banyak, dia bermaksud mampir membeli rokok di sebuah warung. Kebetulan, warung rokok itu sekaligus menjual posel. “Saat itu saya lihat penjualnya sedang melayani pembeli lain,” jelasnya di Polres Demak.

Melihat kelengahan korban, pelaku dengan sigap beraksi. Apalagi kala itu etalase dalam keadaan terbuka. Dalam sekejap lima ponsel beralih tempat, ngendon ke tas dekil Risdha.

Usai melayani pembeli lain, pemilik konter Ahmad Suyuti (50) kaget mendapati beberapa ponsel telah raib. Korban langsung menuduh Risdha yang berada di lokasi kejadian. Adu mulut antara pelaku dan korban mengundang perhatian para pekerja proyek jalan Demak-Gajah.

Mulanya pelaku mengelak. Namun korban tak kurang akal. Dia melakukan call pada salah satu nomor. Terdengar nada panggil dari tas pelaku. Setelah digeledah, di dalam tas ditemukan lima hape curian. Tanpa banyak cing-cong, warga langsung menghajar pelaku.

"Saya dari kamar mandi keluar langsung ke depan. Saya lihat ada orang digebuki," ungkap Khoirul Nida Mariatul (20), saksi mata. Dia berteriak-teriak ngeri melihat ada orang dihajar.

Kapolres AKBP Sigit Widodo melalui Kasubag Humas AKP Sutomo mengatakan, setelah dimintai keterangan, tersangka mengaku telah mengambil lima HP Nokia 5070, Nokia 2700, Cross GG52A, dan dua unit Nokia 5030 C. Bila dirupiahkan senilai Rp 1.050.000.

"Warga mengetahui warga tahu Risdha mencuri ada nada panggil dan menggeledah isi tas yang dibawanya," jelasnya.

Akibat ulahnya, Risdha akan dijerat pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Sutomo menghimbau warga yang mendapati atau menangkap pencuri, agar tidak main hakim sendiri. (swi/16)

Jam

Blog Archive

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sena a7x - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger