Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota. Tampilkan semua postingan

B-Boy, Komunitas Breakdance Semarang Tetap Eksis di Tengah Keterbatasan

Written By Sena on Selasa, 15 Mei 2012 | 18.44





Anggota B-boy sedang melakukan powermove. Komunitas ini masih tetap eksis dengan berbagai kendala yang dihadapi
SEKELOMPOK anak muda terlihat melakukan tarian tak lazim di ujung Jalan Pahlawan. Mereka menekan posisi kepala di bawah bertumpu pada trotoar, kaki diangkat tinggi-tinggi ke atas dan mencoba memutar badan hingga 360 derajat.

Meski tergolong ekstrem, gerakan tersebut bisa menciptakan sebuah kombinasi yang indah, sehingga banyak pejalan kaki yang menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan melihat atraksi tersebut

Apa yang dilakukan sekelompok anak muda tersebut merupakan jenis dance dengan tipe powermove, sebuah gerakan yang paling digandrungi oleh komunitas breakdance Semarang yang diberi nama B-Boy.

Cikal bakal B-Boy dimulai pada tahun 2002, ketika breakdance mulai popular di Kota Lunpia. Lantaran  peminatnya sudah semakin banyak, timbul inisiatif untuk membuat satu wadah yang bisa mempertemukan penggemar breakdance.

“Apresiasi warga Semarang lumayan bagus sehingga membuat komunitas ini semakin berkembang,” kata Riki selaku ketua B-Boy Semarang.

Untuk latihan, biasanya dilakukan setiap Sabtu malam. Dengan iringan speaker sederhana, seringkali atraksi yang diperlihatkan bisa menyihir orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Untuk lebih memacu adrenalin, tak jarang berbagai macam gerakan ekstrem dilakukan.

“Yang pernah cedera juga ada, tetapi jarang sekali serius. Yang penting untuk meminimalisir cedera lakukan pemanasan secara teratur,” tambah Riki.

Walaupun sudah berjalan lama, bukan berarti B-Boy tidak mengalami hambatan, salah satunya adalah minimnya fasilitas yang dimiliki. Dengan mengandalkan speaker mini tentu saja kurang maksimal ketika harus beraksi di tengah bisingnya kendaraan.

Padahal, iringan musik tersebut menjadi faktor utama untuk menyelaraskan gerakan-gerakan. Meski begitu, hambatan ini tak mengurangi antusias mereka untuk beraksi.

B-boy masih tetap eksis, dengan anggota mencapai 50 orang. Untuk mendukung aktivitas kelompok, masing-masing anggota ditarik iuran sukarela. Dari iuran inilah mereka bisa membeli konsumsi dan alat-alat penunjang kegiatan berakdance dan menggelar latihan setiap Minggu malam di Jalan Pahlawan.(nul/17)

Batik dan Kebaya di Peringatan Hari Kartini

Written By Sena on Senin, 14 Mei 2012 | 19.14



GUBERNURAN – Menjelang Hari Kartini, Pemprov bersama Dharma Wanita Persatuan Jateng menggelar kegiatan dengan nuansa perempuan dan batik. Seperti yang dilakukan di Grhadika Bakti Praja kemarin, di mana Dharma Wanita menggelar talkshow dengan tema Perempuan, Batik, dan Kebaya.

Dalam talkshow itu, menghadirkan narasumber GRAy Koes Moertiyah (Gusti Moeng) dari Kraton Kasunanan Surakarta, dan pengusaha serta desainer batik Nita Kenzo. Saat memberikan opininya soal batik dan kebaya, Nita mengatakan, anak muda dahulu masih beranggapan bahwa batik itu merupakan pakaian kuno.

“Namun, seiring dengan perkembangan mode atau fesyen, batik kini menjadi tren dan semakin diminati kawula muda. Pakaian batik tak hanya dikenakan saat upacara adat tapi juga saat hajatan pernikahan,” jelasnya.

Bahkan, lanjut dia, tak jarang para mahasiswa lebih memilih mengenakan pakaian batik saat berkuliah. “Batik kini menjadi penting dan bisa dikenakan dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk kuliah,” katanya lagi.

Soal jenis batik, ia menjelaskan, saat ini terdapat batik jenis tulis dan cap. Untuk itu, ia berharap, masyarakat dapat memilih pakaian sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing.

“Batik tulis mencerminkan kekhasan pembatik, sedangkan batik cap bisa dibuat dengan media printing. Di Pasar 17 Agustus Pamekasan Jatim, batik tulis ada yang dijual Rp 35 ribu, sedangkan harga batik cap antara Rp 40 ribu sampai Rp 100 ribuan,” jelasnya.

Sementara soal kebaya, Gusti Moeng mengatakan, kebaya sekarang ini sudah termasuk populer di kalangan anak muda. “Meski bawahannya celana, tapi atasannya biasanya model kebaya. Model seperti itu sebenarnya sudah mengarah pada faktor ketertarikan anak muda akan kebaya,” ujarnya yang juga merupakan anggota Komisi II DPR tersebut.

Ia berharap, sebagai orang Jawa, anak muda juga berkewajiban untuk melestarikan budaya leluhur seperti kebaya. “Hal itulah yang paling utama dan harus dimaknai oleh generasi penerus. Jangan menganggap kebaya itu merupakan barang yang kuno tapi kebaya itu justru sarat dengan nilai-nilai budaya,” tandasnya.(ano/12)

Mengais Rezeki di Kelenteng Tay Kak Sie



Slamet tengah membersihkan klenteng
SEORANG lelaki paruh baya bukan tampak sibuk membersihkan altar tempat persembahan di Kelenteng Tay Kak Sie. Slamet Purwadi, begitu nama lengkapnya, merupakan warga pribumi yang mencoba mengais rezeki pada tempat peribadatan yang berada di Gang Lombok tersebut.

Ya, lelaki berusia 52 ini adalah seorang petugas kebersihan di kelenteng itu. Satu di antara sepuluh orang warga setempat yang menggantungkan hidupnya di sana. Slamet yang sudah sepuluh tahun bekerja di kelenteng tersebut, mengaku memang dirinyalah yang meminta pekerjaan.

“Dulu saya sempat bekerja di bengkel namun keluar. Awalnya bekerja serabutan di kelenteng, mulai dari bantu membersihkan sampai jadi tukang angkut. Kemudian saya pun diperbolehkan bekerja di sini sebagai petugas bersih-bersih,” katanya, kemarin.

Kelenteng tua yang didirikan pada 1746 itu dia bersihkan setiap hari bersama rekan-rekannya. Pekerjaannya pun semakin berat, tatkala ada perayaan yang dilakukan di klenteng, seperti halnya imlek.
Kelenteng Tay Kak Sie yang pada mulanya hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih ini ramai dikunjungi warga Tiong Hoa.

Sebagai tukang bersih-bersih, dirinya pun harus selalu mengkondisikan tempat agar selalu bersih. Ini dilakukan agar warga Tiong Hoa dapat nyaman beribadah.

Mengenai gaji yang diperoleh, bapak tiga anak ini menuturkan dibayar tiap bulannya. meskipun nominalnya tidak begitu banyak namun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Di sini saya mengabdi, meskipun saya muslim tetapi klenteng juga merupakan rumah Tuhan,” tuturnya yang sudah berhasil menyekolahkan anaknya sampai tingkat universitas.

Tay Kak Sie merupakan satu dari sekian banyak sumber pamasukan bagi warga yang hidup di sekitar pecinan. Tidak hanya Slamet, warga pribumi yang menggantungkan hidupnya di kawasan pecinan untuk menafkahi keluarganya.

Seperti yang dirasakan Yani misalnya. Warga Kebonharjo ini mengaku senang adanya kawasan pecinan. Karena ia bisa bekerja di salah satu pertokoan yang menjual bahan-bahan konveksi. Sudah puluhan tahun dirinya bekerja dan mengabdi dengan warga Tionghoa.

Hal senada juga diungkapkan oleh pardi tukang parkir asal Kembangsari. “Karena Jalan Beteng banyak pergudangan dan banyak pembeli. Sehingga saya memanfaatkan menjadi tukang parkir di sini,” ungkapnya.

Menjadi tukang parkir di kawasan pecinan sangat membawa berkah. Karena rata-rata pemilik kendaraan roda empat yang baik sering memberikan uang parkir antara Rp 2-5 ribu. (wam/17)

Akan Ambil Soal UN Kepala Sekolah Tewas Terlindas

Written By Sena on Minggu, 13 Mei 2012 | 23.06


MENDAPAT PERAWATAN: Jenazah kepala sekolah yang meninggal akibat kecelakaan dibawa perawatan di RS Kariadi sebelum dibawa ke rumah duka
SEMARANG – Perjuangan Kepala Sekolah SMA Mataram Drs Andrias Rukiyo (59), patut mendapat penghargaan. Demi memperjuangkan pendidikan, warga Jalan Grafika Raya, RT 02/RW 02 Banyumanik ini harus rela “membayar” dengan nyawanya.

Hendak mengambil naskah UN, pak guru ini menjadi korban kecelakaan setelah tersenggol truk pengangkut pasir di Jalan Jenderal Anton Soejarwo, Banyumanik atau tepatnya di depan Kantor Museum Rekor Indonesia (Muri), Selasa (17/4) pagi. Akibatnya, ia tewas seketika dengan luka parah, di antaranya di bagian kepala, telinga, hidung mengeluarkan darah, dan kaki kiri patah. 

Informasi yang dihimpun Harsem, korban berangkat dari rumah sekitar pukul 05.45. Pagi itu, kepala sekolah ini mengendarai sepeda motor Jupiter MX H 6789 MG. Dari arah atas (Jalur Semarang-Solo). Dia melaju seorang diri hendak mengambil lembar soal Ujian Nasional (UN).

Menurut keterangan saksi mata, Yohanes Suratmoko, korban melaju dengan kecepatan sedang. Namun tak lama kemudian ia menyenggol bak truk yang mengangkut pasir. "Barangkali kehilangan keseimbangan, sehingga seketika itu motor korban oleng dan terjatuh ke kanan. Nah begitu jatuh, tubuh korban terlindas truk dari arah belakangnya, yakni bernopol AG 8278 UK," katanya ditemui di lokasi kejadian.

Yohanes  mengaku masih sempat melihat detak jantung korban. Namun, korban pingsan dan tak lama kemudian baru meninggal. Jenazah korban kemudian dibawa ke kamar mayat RSUP Dr Kariadi.

Anak sulung korban, Antonius Setiyoko menjelaskan, pagi itu ayah tercintanya itu hendak mengambil soal UN di SMA 3. Karena mengantisipasi kemacetan, korban memilih mengendarai motor. "Kalau hari-hari biasa, ayah mengendarai mobil. Namun hari ini mobilnya ditinggal di rumah dan memilih menggunakan motor," kata Setiyoko.

Direktur SMA Mataram, Kusnanto membenarkan, Andrias ada tugas mengambil soal UN di SMA 3 Semarang. Pihak sekolahan baru mengetahui setelah diberitahu oleh pihak SMA 3 bahwa soal-soal ujian belum diambil. Padahal waktu ujian sudah mepet. "Sempat menelepon korban, namun yang mengangkat petugas kepolisian. Di situlah kami mengetahui korban mengalami kecelakaan," katanya.

"Atas hal itu, pihak SMA 3 kemudian berinisatif mengantarkan soal UN ke SMA Mataram, sehingga proses UN tetap berjalan lancar," imbuh Kusnanto lagi. Kusnanto mewakili segenap yayasan, para guru, dan siswa menyatakan bela sungkawa atas meninggalnya Andrias..

Sementara itu, Kasat Lantas Polrestabes Semarang, AKBP Jaladri mengatakan, kepolisian tidak menetapkan sopir truk sebagai tersangka. Hal itu, berdasarkan penyelidikan, kecelakaan itu disebabkan karena kelalaian pengendara motor. "Korban menyenggol bak truk kemudian sepeda motornya kehilangan keseimbangan," terang Jaladri. (abm/11) 

Semarang Tuan Rumah 17 Negara Ikut Kompetisi AFSC


PEMBUKAAN APEC: Sebanyak 17 negera mengikuti konferensi sains ke-4 APEC di Semarang. President Society of Interntional Gifted in Science, Sang Chun Lee, didampingi Wakil Walikota Hendrar Prihadi memberi keterangan pers

BALAIKOTA – Kota Semarang kembali menggelar perhelatan akbar. Mulai tanggal 24-29 April bertempat di Grand Candi Hotel, akan diadakan Kompetisi APEC Future Scientist Conference (AFSC) yang ke-4. Kompetisi ini dihadiri oleh 17 negara, yaitu Indonesia, Korea Selatan, Jepang, Selandia baru, Australia, Amerika Sserikat, Kamboja, Vietnam, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Cina, Hongkong, Filipina, Taiwan dan Swedia. Jumlah peserta sebanyak 120 orang yang terdiri dari 80 siswa SMA dan 40 mentor.

President Society of Interntional Gifted in Science, Sang Chun Lee mengatakan, untuk tema kompetisi kali ini adalah “The Science of Water”. Tema ini diangkat sebagai fokus Unesco untuk mengembangkan tiga tema besar di tahun 2012, yaitu masalah energi, karbon dioksida, dan science water dalam rangka program saving earth.

“Jadi dalam satu minggu peserta dituntut untuk merumuskan tehnologi baru yang bisa menghemat air,” terang Sang Chun Lee.

Dari 120 peserta nanti akan dikompetisikan ide-idenya untuk berlomba memperebutkan juara 1 sampai 3.
Lebih lanjut, Sang Chun Lee juga menambahkan bahwa kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menciptakan jaringan pemuda yang nantinya akan dipersiapkan menjadi ilmuwan di masa depan antar-negara-negara APEC untuk bisa bekerjasama dengan pemuda lain. Hal ini karena antar-negara APEC saling memiliki keterkaitan geografis.

Sementara itu Kementerian Riset dan Teknologi, dalam sambutannya yang diwakili oleh Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, Amin Subandrio menegaskan, Indonesia memiliki dua platform untuk mendukung ilmu pengetahuan bagi generasi muda. Yang pertama rencana pembangunan jangka menengah 2010-2014 yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan iptek. Dan yang kedua adalah masterplan percepatan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang terdiri dari tiga pilar, yaitu pengembangan potensi ekonomi melalui koridor ekonomi, penguatan konektivitas nasional dan penguatan kemampuan SDM dan iptek nasional.

Di kesempatan terpisah,Wakil Walikota Semarang Hendar Prihadi mengatakan bahwa jajaran pemerintah Kota Semarang sangat mengapresiasi acara ini, karena dari kompetisi semacam inilah bisa ditumbuhkan jiwa ilmuwan yang akan menjadi tulang punggung bangsa. Diharapkan pula siswa dari Indonesia bisa bersaing dengan siswa-siswa dari negara lain.(nul/12)

Jam

Blog Archive

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sena a7x - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger